sejarah perkembangan dayah tuha Ath-Thahiriyah paloh jurong, pande
BAB I
PENDAHULUAN
a.
Latar
Belakang
Nama dayah sendiri diambil dari
Bahasa Arab; zawiyah. Istilah zawiyah, secara literal bermakna sudut, yang
diyakini oleh masyarakat Aceh pertama sekali digunakan adalah sudut Masjid
Madinah, ketika Nabi Muhammad memberi pelajaran kepada para sahabat pada awal
diturunkannya agama Islam. Pada abad pertengahan, kata zawiyah dipahami sebagai
pusat agama dan kehidupan sufi yang kebiasaannya menghabiskan waktu di
perantauan. Kadang-kadang lembaga ini dibangun menjadi sekolah agama dan pada
waktu-waktu tertentu juga dijadikan sebagai pondok bagi para pencari ilmu-ilmu
agama.
[1]Seiring berjalannya waktu, peran dan
fungsi dayah juga berkembang. Dayah tidak lagi sebatas tempat pendidikan
keagamaan, tetapi juga menyentuh ranah sosial politik dan menjadi tempat untuk
menjaga manuskrip serta kitab-kitab kuno yang langka. "Dayahlah yang telah
mendidik rakyat Aceh pada masa lalu sehingga mereka ada yang mampu menjadi
raja, menteri, panglima militer, ulama, ahli teknologi perkapalan, pertanian,
kedokteran, dan lain-lain.maka dari hasil penelitian tentang dayah kami
mengambil judul tentang dayah tuha Ath-Thahiriyah paloh jurong pande, karena
dayah tersebut merupakan dayah yang tradisional dari zaman dulu hingga sampai
zaman sekarang, dan dayah tersebut mengalami sejarah yang cukup panjang
sehingga menarik bagi kita mengetahui tentang perjalanan dayah tersebut.
b. Rumusan Masalah
·
Bagaimana
Sejarah Berdirinya Dayah Tuha Ath-Thahiriyah?
·
Bagaimana
Proses Perkembangan Dayah Tuha
Ath-Thahiriyah Dari Masa Ke Masa?
·
Bagaimana
Sistem kurikulum pendidikan yang di terapkan di Dayah tuha Ath-Thahiriyah?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Berdirinya
Dayah Tuha Ath-Thahiriyah
Dayah Tuha Ath-Thahiriyyah Paloh Jurong Pande berdiri pada akhir abad 19
dan awal abad 20 M yaitu masa-masa akhir kolonial Belanda. Pendiri dayah ini
adalah Teungku Abdul Wahid Paloh Jurong Pande. Pembangunan dayah ini berada
diatastanah wakaf milik keluarga Tgk Abdul Wahid, sehingga masyarakat Jurong
Pande menyebutnya dengan “Lampoh Wakeuh” artinya Kebun Waqaf. Pendirian
dayah oleh tgk Abdul Wahid pada saat itu dengan sumber dana swadaya masyarakat
diatas tanah waqaf miliknya.
Pada awal mula Dayah tuha ini tidak
mempunyai nama layaknya hari ini. Pada
tahun 1995 yaitu tahun kedua kepimpinan Waled Muhammad Shaleh timbul inisiatif
untuk memberikan sebuah nama untuk dayah yang telah berumur ratusan tahun ini. Pemberian
nama dayah tersebut adalah kesepakatan dari ahli waris dan dewan guru pada saat
itu. Dayah yang dulunya disebut sebagai dayah tuha Paloh Jurong Pande ini
kemudian diberikan nama oleh Tgk.Haji Abdul Mannan yaitu pimpinan Dayah Cot
Plieng, Ujong Rimba yang juga merupakan mertua dan guru dari Waled sebagai
pimpinan dayah kala itu. Ath-Thahiriyyah yang disematkan nama dayah hari ini
adalah untuk mengenang pimpinan dayah ke-3 yaitu Tgk Muhammad Thahir bin Tgk
Haji Abdul Wahid.
B.
Perkembangan
dari Masa ke-Masa
Dalam sejarah perkembangannya, Dayah
Tuha Ath-Thahiriyyah telah mengalamai jatuh bangun sejak masa pendirian sampai
dengan saat ini. Secara umum, kami membagi perkembangan dayah ini kedalam 3 (tiga) masa sebagai berikut.
1.
Masa 1900-1950
Setelah Dayah ini didirikan
oleh Tgk. H. Abdul Wahid diatas tanah wakaf miliknya,beliau memimpin dayah ini
sampai dengan tahun 1940. Pada masa beliau dayah ini berkembang sampai keluar
Pidie. Hal ini dibuktikan dengan adanya murid-murid Tgk Abdul Wahid yang
dijumpai oleh Waled Muhammad Shaleh pada
dekade 1990an di Matangkuli dan Peusangan.
Setelah tahun
1940 dan Tgk Abdul Wahid telah meninggal
dunia, maka dayah tersebut diberikan kepada anaknnya yaitu Tgk. Muhammad
Rasyid. Tgk Muhammad Rasyid berguru di Dayah Raya Keudee Geulumpang Minyeuk.
Pada masa Tgk rasyid ini beberapa balee dibangun yang dulunya hanya ada 1 balee
saja. Bahkan kitab-kitab yang diajarkan sudah pada tingkat tinggi. Pada masanya
juga para santri dayahdikirimkan ke
dayah-dayah yang lebih maju, kemudian mereka
pulang untuk mengajar kembali di Dayah Paloh Jurong Pande.
Tgk.Haji Khatib Geulumpang Minyeuk, salah satu murid yang
dijumpai oleh Waled Jurong Pande menceritakan pada masa Tgk Muhammad Rasyid
inikitab-kitab dari Mesir dibawa pulang dan diajarkan. Kitab-kitab tersebut
ditinggalkan oleh Tgk Muhammad Rasyid di Mesjid Tuha Geulumpang Minyeuk.
Kitab-kitab peninggalan Tgk Muhamad Rasyid pada masa DI/TII disembunyikan pada sebuah Berandang dekat
Mesjid Tuha Glp. Minyeuk hari ini dan ketika Waled Muhammad Shaleh dan Tgk.
Haji Khatib mencari kitab tersebut pada tahun 1990an menjumpai sisa-sisa kitab
yang disembunyikan masa DI/TII sudah dalam keadaan rusak dan banyak yang lapuk
dan beberapa masih bisa diselamatkan. (lihat gambar lampiran). Pada tahun 1950, Tgk. Muhammad Rasyid kembali ke
rahmatullah dalam usia muda dan tidak sempat berumah tangga. Dayah tersebut
kemudian dialnjutkan oleh adiknya tgk. Muhammad Thahir.
2.
Masa 1950-1990
Setelah meninggalnya Tgk.Muhammad
Rasyid, kepemimpinan dayah ini diteruskan oleh adiknya yaitu Tgk. Muhammad
Thahir yang pernah mengenyam pendidikan
di Zawiyah Arongan, Samalanga. Pada masa pimpinan oleh Tgk. Muhammad Thahir,
sejak tahun 1950 sampai tahun 1975 terjadi beberapa peristiwa yang membawa efek pada dayah. Tahun 1953 ketika
DI/TII dan PKI mengakibatkan dayah tersebut menjadi vacum dan aktivitas
mengajar terhenti. Hal ini mengakib atkan Tgk.Muhammad Thahir meninggalkan
dayah tersebut dan beliau pergi ke Banda
Aceh untuk beberapa waktu. Dalam masa yang kosong itulah, banyak balee-balee
rusak dan ditinggalkan begitu saja. Akan tetapi masih juga ada yang tetap
bertahan dari dewan guru dan mengajar di balee yang tersisa. Banyak kitab-kitab
dan fasilitas dayah yang rusak dan tidak adalagi santri yang belajar, sehingga
sejak tahun 1970an dayah itu tidak lagi berfungsi secara aktif.
Pada
tahun 1975, Tgk.Muhammad Thahir pimpinan dayah tersebut meninggal dunia tanpa
bisa mengembangkan kembali dayah yang
sempat ditinggalnya. Maka sejak tahun 1975-1990 aktivitas ajar-mengajar didayah
ini terhenti. Ada beberapa orang yang mencoba untuk menghidupkan dayah ini,
akan tetapi tidak pernah berhasil hingga tahun 1990.
3.
1990-sekarang
Masa 1990-sekarang yaitu
dimulai 1994 sejak diberikan kepengurusan dayah kepada Waled Muhammad Shaleh. Pada
masa inilah wajah baru dayah ini berubah yang selama ini telah ditinggalkan.
Bangunan yang ada pada saat dayah ini diberikan kepada Waled yaitu berupa satu
(1) balee dan 1 sumur, sedangkan yang
lainnya saat itu hanya tersisa reruntuhan
beberapa balee yang sudah hancur. Pada tahun 1995 setelah diubah nama dari
Dayah Paloh Jurong Pande menjadi Dayah Ath-Thahiriyyah dan waled berusaha
membangunnya kembali dengan swadaya masyarakat
setempat.
Dalam masa pembangunan sejak
tahun 1994/1995 suasana Aceh yang kala itu masa
konflik juga membuat waled dan
masyarakat susah untuk mengembangkan dayah ini. Akan tetapi dengan semngat dan dukungan dari
berbagai pihak waled berusa keras untuk membangun segala macam infrastruktur
dayah. Tahap pertama yang dilakukan oleh waled yaitu membangun rumah Aceh atas
waqaf masyarakat sebagai tempat tinggalnya sebagai pimpinan saat itu.
Kemudian,waled membangun 1 balee utama dengan ukuran 4x9 meter yang difungsikan
sebagai balee utama dan tempat shalat. Langkah selanjutnya yang waled bangun
yaitu tempat wudhuk dan kamar mandi dengan dana yang terbatas kala itu.
Setelah tahun 2000, pembangunan
dayah dilanjutkan dengan sumbangan dari beberapa pihak, waled membangun bilik
atau kamar untuk dewan guru sebanyak 2 kamar dan 1 bilik untuksantri yang
menetap. Selanjutnya juga telah dibangun 2 balee tambahan untuk santri tingkat
I dan II. Pasca
tsunami waled mencari sumbangan-sumbangan dana dan berhasil membuka 1
perpustakaan dayah dengan penambahan 2 bilik untuk para santri. Setelah itu tempat
wudhuk juga diperluas dan dibuat penampungan air hingga hari ini.
Waled juga membagi kurikulum
pendidikan yang baru agar sejajar dengan
dayah tradisional yang berkembang. Jumlah
santri dari tiap tahun juga kian
bertambah dengan sosialisasi dayah yang dikembangkan oleh dewan guru.
Dalam sejarah perkembangannya, dayah ini terlepas daribantuan pemerintah dan
konstisten dengan manhaj tradisonalnya. Segala bentuk pembangunan dan
pengembangan dayah sejak dipimpin olehg Waled Muhammad Shaleh 1994-sekarang
ialah dari swadaya masyarakat. Akan tetapi terkecuali pada bahan ajar kurikulumyang pernah mendapat
bantuan dari pemerintah yaitu Badan Dayah Pidie,berupa kitab-kitab.
C.
Kurikulum
Pendidikan
Dalam pengembangan pendidikannya, Dayah Tuha Ath-Thahiriyyah ini menerapkan
kurikulum pendidikan layaknya pendidikan dayah-dayah tradisional di Aceh hari
ini. Kurikulum pendididkan yang kembangkan dan diterapkan hari ini adalah
kurikulum yang dibuat oleh Waled Muhammad Shaleh sejak dipimpin oleh beliau
tahun 1994 sampai dengan sekarang.
Kurikulum
pendidikan dapat dibagi menjadi empat tingkatan
·
Tingkat I
Tingkat I adalah tingkat pendidikan paling rendah, yang
diajarkan kepada anak-anak mulai umur 7-12 tahun. Kurikulum pendidikan yang
diajarkan adalah :
-
Kitab Pelajaran Akhlak
-
Tauhid
-
Masailail Mubtadi
-
Tajwid dan al-Qur’an
-
Iman
·
Tingkat II
Santri pada tingkatan ke II ini adalah yang berumur 12-17
tahun. Pendidikan untuk tingkat ini terfokus pada pembekalan ilmu Nahwudan
sharaf.
Jenis kitab atau bahan ajarnya adalah :
-
Matan al-Jurumiyah
-
Awamil
-
Dhammon mudhkhal
-
Matan Bina
·
Tingkat III
Ditingkat III ini, para santri ditekankan pendalaman ilmu
tata bahasa Arab dan ushul fiqh. Materi yang diajarkan adalah :
-
Kitab Matan taqrib
-
Kawaqib
-
Aqidah Sanusi
-
Safinatun Naja
-
Taisir Akhlak
·
Tingkat IV
Tingkat IV ini adalah tingkat yang
paling aly dalam pendidikan didayah Ath-Thahiriyyah. Para santri yang
belajar ditingkat ini ialah yang sudah melewati
tingkat III yaitu rata-rata usia 17-25 tahun.
Materi yang diajarkan dalam tingkat ini adalah:
-
Ummul Barahin serta syarahnya
-
Bajuri jilid I-II
-
Khulasah Nurul yaqin
-
Mahally
-
Tuhfatul Muhtaj
-
Tafsir as-Shawii
·
Majlis Ta’lim
Pengajian majlis ta’lim adalah pengajian khusus kepada
kaum wanita dari yang remaja hingga orangtua. Kegiatan majlis ta’lim ini dilaksanakan
pada setiap hari Jum’at mulai pukul 14.00-ashar.
Jadwal Pengajaran
:
Untuk tingkat I hanya dialngsungkan pada siang hari
(kecuali hari jum’at)
Untuk tingkat II jadwal belajar mengajar dilakukan pada
siang dan malam hari (kecuali hari Minggu)
Untuk tingkat III dan IV jadwal belajar pada waktu Malam
dan Subuh.(khusus pada waktu shubuh belajar kitab Tafsir as-Shawi setiap pagi)
Biografi
Informan
Pada tahun 1994 dipercayakan oleh
ahliwaris waqaf Dayah Paloh Jurong Pande untuk
membangun kembali dayah tersebut. Tahun 1996 menikah dengan Wardiati
yaitu anak dari gurunya Tgk. H. Abdul
Mannan, Cot Plieng dan telahdianugrahi 10 orang putra-putri. Setelah wafat Tgk.
Abdul Mannan, Dayah Cot Plieng juga dipercayakan untuk dipimpin oleh Waled
Muhammad Shaleh.
Biografi
Penulis/ Interviewer
1.
Masykur
2.
Misfardi
.
|
Balee yang pertama didirkan oleh Waled Shaleh
|
|
Rumah Pimpinan Dayah
|
|
Balee untuk Santri Tingkat II
|
|
Tempat Wudhuk
|
|
Kitab peninggalan Alm. Tgk M. Rasyid, Pimpinan
Dayah ke II yang selamat dari DI/TII
|
|
Perpustakaan dengan bangunan atas sebagai bilik untuk
santri yang menetap terdiri 3 kamar
|
|
Bilik dasar untuk dewan guru yang menetap
|
D.
Beberapa Konsep-Konsep Dayah
·
Bilik atau bale,
Pada dayah tuha Ath- Thahiriyah
ini bale atau bilik sudah bertambah karena terdapat sumbangan dari beberapa
pihak, sehingga, waled membangun bilik atau kamar untuk dewan guru sebanyak 2
kamar dan 1 bilik untuk santri. Setelah itu tempat wuduk di perluaskan hingga
hari ini.
·
Kurikulum atau kitab kuning
(sudah kami jelaskan di halan 3)
·
Mesjid atau Mushalla
·
Menagemen pengelolaan
·
Alumni yang mengajar di tempat
dayah tersebut.
BAB III
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Dayah merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari tradisi masyarakat aceh. Keberadaan dayah memiliki sejarah
yang panjang, mengakar kuat masyarakat, baik dalam pola kehidupan sosial,
budaya dan keagamaan. Di dayah tuha Ath-thahiriyah merupakan dayah yang masih
mempertahankan bagunan yang sanga-sangat tradisional dan kurikulum pendidikan
dayah membagikan tingkatan – tingkatan.jika kita ingin mengembang kan budaya akademik did ayah ada beberapa cara yaitu
meningkatkan partisipasi dan komikasi dengan semua sthekelhelder. Kedua
melakukan pengembangan struktur, ketiga penimngkatan sumber daya manusia.
Perubahan tersebut perlu di lakukan karena tuntutan masyarakat dan dunia kerja
dan tuntutan modernisasi dan globalisasi.
Komentar
Posting Komentar